Gudang itu penuh bau busuk kebohongan.
Tuan muda berdiri dibalik tumpukan kayu yang lembab akibat hujan tiada berhenti di kota penuh kriminal dan pejabat korup. Satu dari 4 lampu gantung terlihat berkedip yang artinya ketka ada seseorang yang berdiri dibawahnya, siluet akan bergerak tidak konsisten. Satu pintu yang ia liat dari luar, satu dari depan dan satu dari samping. Ada kemungkinan ada lagi di belakang namun tidak dipertaruhkan.
Tiga penjaga. Satu duduk di kursi dekat pintu depan degan rokok yang tinggal satu perempat, yang artinya ia di sini sudah lama dan sudah mulai bosan. Satu berdiri di tengah ruangan, tangan disilangkan ke depan, mata ke lantai. bukan penjaga, ini penunggu yang bosan. Yang ketiga selalu mondar mandir di sisi kanan. Dari cara dia berjalan, ia selalu memulai dari titik yang sama. TIGA PULUH SATU DETIK. Waktu yang dibutuhkan kkapan punggungnya akan menghadap pintu. Tepat.
Di sudut kiri, terikat di kursi kayu dengan tangan dibelakang da kepala yang tergantung. seorang wanita, awal dua puluhan, berseragam kerja yang sudah kusut. Napasnya teratur, Hanya luka ringan. Mereka menginginkan sesuatu dari dia namun belum mereka dapatkan. Bagus. Itu artinya Tuan Muda masih ada waktu
Jam tangan tuan muda menunjuk angka 01.11.
Saatnya.
Tuan Muda begerak pertama kali saat penjaga ketiga memulai memuta bahunya. Ia tidak berlari. Orang yang tergesa gesa membuat suara, dengkul membentur sesuatu, napas yang tertahan terlalu keras, telapak kaki yang mendarat tidak tepat. Ia berjalan dengan tujuan.
Penjaga pertama baru saja menegakkan kepala ketika Tuan Muda sudah di belakangnya. Tekanan tepat di titik persimpangan leher dan bahu. Dua detik. Penjaga itu terkulai kembali ke kursinya. Dari jauh terlihat seperti sedang beristirahat. Penjaga kedua mendengar sesuatu. Entah apa, mungkin hanya instingnya, dan menoleh. Tuan Muda sudah menutup jaraknya, memegang kepala pria itu dengan sepasang tangan, dan menggerakkan ke sudut yang tepat. Cukup untuk membuat pria itu tidak sadar. Tidak cukup untuk merusak secara permanen. Ada perbedaan tipis diantara keduanya. Hanya Tuan Muda yang tau.
Penjaga ketika terdengar sebelum terlihat. Langkahnya yang monoton sudah berbalik arah.
Tuan Muda menghitung sampai tiga.
"Satu... Dua... Tiga . . . ." Dalam pikirannya.
Pria itu berbalik dan menemukan kepalan tangan yang sudah menunggu di ketinggian yang tepat.
Ruangan menjadi sunyi.
Tuan Muda berjongkok di depan wanita yang terikat. ia tidak langusng membuka ikatan, ia mengamati. Ia ingin tau apa yang orang orang ini inginkan darinya sebelum ia membebaskannya. Karena apa yang mereka inginkan bisa menjadi petunjuk tentang siapa mereka.
"Sudah selesai?" Suara perempuan itu parau tapi tidak getar.
"Hampir." Ia mulai membuka tali pergelangan tangannya. "Kamu tidak menangis."
"Sudah dari tadi."
"Tidak sekarang."
Ia mengangkat kepala dan menatap Tuan Muda dengan mata lelah namun tidak kosong. "Menangis sekarang tidak berguna."
Tuan Muda tidak menjawab. Ia melepas ikatan terakhir, membantu perempuan itu berdiri dan mengarahkannya ke samping.
"Sepatu saya," Kata wanita itu.
"Di sana." Ia sudah melihatnya dari tadi. Jauh di didekat dinding timur bersama tas kecil yang besar kemungkinan sudah digeledah. "Ambil yang perlu. Dua menit."
Ia berjaga di pintu sementara wanita itu memungut barangnya. Di Luar, angin membawa bau got dan asap knalpot yang seolah tidak pernah pergi dari kota ini, bahkan hujan tidak mampu menutupinya. Di kejauhan, lampu bangunan bangunan masih menyala. Kota yang tidak tidur, tidak juga bersemangat. Karena selalu ada yang bekerja di tengah malam.
"Selesai," Kata perempuan itu.
Mereka berjalan keluar.
Mobil Rendi menunggu setengah blok dari gudang, lampu mati, mesin pelan. Rendi sudah menyiapkan botol air minum di jok belakang dan tidak bertanya apa apa. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Tuan Muda untuk tau bahwa pertanyaan akan dijawab kalau memang perlu dijawab.
Setelah perempuan itu turun di depan kantor polisi terdekat dengan sebuah nama yang Tuan Muda bisikan kepadanya. "Minta Kapten Heru, jangan minta yang lain!". Rendi akhirnya berbicara.
"Beres?"
"Beres."
"Ada yang kabur?"
"Tidak ada."
Rendi mengangguk dan memutar setir. Kota mengalir di luar jendela, lampu jalan yang remang dan basah akibat hujan, warung masih buka untuk supir taksi dan orang orang yang tidak punya tempat yang disebut dengan rumah untuk menghabiskan malam mereka. Tuan Muda membuka ikatan dasinya. ada lebam yang besok pagi menjadi hitam di tulang pipi kanan. Salah satu penjaga berhasil mendaratkan satu kali sebelum ia berhasil mengendalikan situasi. Tidak masalah. Ia sudah merasakan yang lebih buruk.
Ia memejamkan mata ketika ponsel Rendi sedang berdering.
Nada dering yang biasa. Tapi sesuatu dalam cara Rendi menarik nafas sebelum mengangkatnya membuat Tuan Muda membuka matanya.
Ia tidak mendengar apa yang dikatakan diujung sana. Tapi ia melihat tangan Rendi mengencang di setir. Ia melihat lampu jalan bergerak diatas Rendi, dan bayang bayang itu melewati sesuatu yang berubah di rahangnya.
Setelah tiga puluh satu detik, Rendi menurunkan ponselnya.
Ia tidak berbicara. Mobil berhenti di pinggir jalan tanpa direncanakan. Rendi menepi begitu saja, seperti tubuhnya memutuskan berhenti sebelum pikirannya sempat memberi perintah.
Tuan Muda menunggu.
"Bagas," Kata Rendi yang akhirnya. Suaranya aneh. Terlalu datar untuk kalimat sepanjang itu. "Adik saya."
Tuan Muda tidak bergerak.
"Kata mereka. . . " Rendi menelan ludah. "Kata mereka jatuh. Di lokasi proyek. Sudah dari tadi sore, tapi baru ada yang menghubungi sekarang karena" Ia berhenti. Mulai lagi. "sudah tidak ada."
Di luar, sebuah motor melintas dengan knalpot yang berisik, lalu senyap. Kota terus bergerak seolah tidak ada yang berubah, karena emang bagi kota ini tidak ada yang berubah. Hanya bagi satu orang besar yang sekarang duduk diam di kursi pengemudi dengan kedua tangan diatas setir dan mata menatap ke depan tanpa melihat apa apa.
Tuan Muda meletakkan tangannya di bahu Rendi. Satu sentuhan saja, sebentar, bukan untuk menghibur, karena ia tahu hiburan tidak berguna pada moment seperti ini. Hanya untuk mengatakan "Aku di sini."
Delapan belas jam untuk menutup kasus seorang pekkerja konstruksi. Terlalu cepat. Proyek besar selalu punya jaringan pengaman hukumnya sendiri, tapi secepat ini?
Ia belum berkomitmen apa apa.
Tapi sesuatu tidak beres.